Al Husni dan Pendidikan Fisika


Pembelajaran fisika di indonesia masih terpenjara
September 13, 2008, 2:00
Filed under: Pembelajaran | Tag: , ,
Pembelajaran Fisika di Indonesia masih terpenjara
13 September 2008

fenomena alam

fenomena alam

Dr. rer. nat. M.F Rosyid melancarkan kritik tajam terhadap pembelajaran fisika di Indonesia. Menurutnya, di Indonesia, ilmu fisika secara sistematis terpenjara di sekolahan dan bimbingan test. Ilmu fsika masih dipandang semata-mata sebagai urusan sekolahan, hanya terkait dengan ujian, merupakan wilayah kompetensi para tentor, dibicarakan paling efektif di bimbingan test, dan (bahkan) fisika hanyalah salah satu cabang olimpiade. Masih secara luas dipahami bahwa fisika tidak memiliki kaitan nyata dengan kesejahteraan dan kemakmuran. Bahwa fisika berada di mana-mana, bahwa fisika bermanfaat, bahwa fisika mampu menyelesaikan berbagai permasalahan belumlah menjadi pemahaman dan kesadaran umum. Selain itu, profesi sebagai fisikawan masih terasa asing bagi masyarakat kita. Hal ini jauh berbeda dari profesi dokter, arsitek, dan insinyur.

Beliau juga menyatakan bahwa pembelajaran sains berbasiskan isi (content based) adalah pembelajaran sains yang menekankan penguasaan dan pemahaman fakta-fakta ilmiah (scientific content). Dalam pendekatan ini, pembelajaran sains lebih bernuansakan doktrinasi sehingga kebenaran bersifat konvergen dan cenderung menjauhkan siswa dari bersikap skeptis terhadap suatu kebenaran. Di negara-negara maju, pendekatan tradisional ini telah lama mendapatkan kritik dan telah pula dimuseumkan. Pendekatan ini merupakan implementasi dari persepsi yang sempit terhadap sains, yakni persepsi yang menganggap sains melulu sebagai suatu kumpulan (sistem) informasi. Hasil-hasil kajian dan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini memiliki berbagai kelemahan yang cukup essensial. Dalam pembelajaran sains secara konvensional ini, para siswa tidak diajar untuk ‘bersains’, melainkan hanya dilatih untuk melantunkan fakta-fakta sains. Sementara itu pandangan yang utuh tentang sains menyarankan suatu pendekatan yang mengedepankan kompetensi akan sains itu sendiri.

Berbeda dari metode tradisional, dalam pendekatan berbasis kompetensi ini, para siswa diajar untuk bersains. Pendekatan semacam ini lebih komprehensif dibandingkan dengan yang pertama karena pendekatan yang terakhir ini selain mencakup penguasaan dan pemahaman kandungan ilmiah (fakta-fakta sains) ia mancakup pula pembinaan terhadap sikap dan perilaku ilmiah, misalnya. Pendekatan ini dikenal sebagai competence based approach. Reformasi pendidikan sains berarti perluasan pendekatan, dari hanya pendekatan isi (content) menjadi pendekatan kompetensi.

Dr. rer. nat. M.F. Rosyid yang pernah menjadi juri Olimpiade fisika Asia 2003 ini merupakan fisikawan UGM yang amat peduli terhadap perkembangan fisika dan pendidikan fisika di Indonesia. Paparan kritik ini disampaikan dalam Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika di Universitas Ahmad Dahlan, 5 Mei 2008. Seminar ini diikuti oleh dengan antusias oleh seluruh peserta yang terdiri dari dosen-dosen, guru dan mahasiswa fisika/pendidikan fisika baik dari Yogya maupun luar Yogya. Peserta terjauh adalah dari Universitas lambung Mangkurat Kalimantan.


5 Komentar so far
Tinggalkan komentar

selamat atas tampilnya blog anda

Komentar oleh andi

Saya setuju dengan dengan tulisan di atas.

Komentar oleh akim

Selamat deh buat husni jd kita bisa sharing

Komentar oleh wati

salam kenal mas

nice post

gurumuda.com

gudang ilmu fisika gratis
(semoga bermanfaat)🙂

Komentar oleh San

kumu husni sc ugm ya????

Komentar oleh Rizkifika




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: